Nasional

Bagaimana Hoegeng Awards membuat Polri lebih presisi?

×

Bagaimana Hoegeng Awards membuat Polri lebih presisi?

Sebarkan artikel ini

 

 

BADUNG,Mediatimsus.com (16/05/2023) – Terdorong keinginan mencari Polisi yang benar-benar mau kerja dalam/seperti rekam jejak Kapolri ke-5 Jenderal Soegeng Iman Santoso, contoh polisi yang baik hati, hidup sederhana dan jujur. Inilah tugas Ketua Panitia Hoegeng Award 2023 Alfito Deannova Ginting dan rekan-rekannya dalam kepanitiaan Hoegeng Awards di tahun 2023 ini.

Adapun Hoegeng Award ini penyelenggaraan kali kedua sejak tahun lalu, mengutip laman resmi Korlantas Polri disebutkan penyelenggaraan Hoegeng Awards pertama kali dicetuskan oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo saat rapat kerja dengan Komisi III DPR pada Januari 2022.

Inilah yang ditangkap kesan oleh awak media Timsus bahwa Hoegeng Awards sebagai “trigger” (penggerak/pencetus) membuat Polri lebih presisi oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo serta salah satu bentuk keseriusan beliau membenahi Institusi Polri.

“Penyelenggaran Hoegeng Awards ini bermula dengan adanya tagar percuma lapor polisi dan satu hari satu oknum. Lalu Pasal 30 ayat 4 UUD 1945 yaitu Polri sebagai alat negara yang menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat bertugas melindungi, mengayomi, melayani masyarakat serta menegakkan,”kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo yang dikutip dari laman resmi tersebut oleh awak media Timsus saat menghadiri acara zoom meeting live dengan Divisi Humas Mabes Polri (yang diikuti oleh seluruh Divisi Humas Polda/ Polres seluruh Indonesia) Dialog Publik bertema “Hoegeng: Keteladanan Melintasi Zaman” di Aula Lantai 3 Gedung Kantor Polres Badung Selasa pagi kemarin (16/05/2023).

Hadir pula beberapa perwakilan perangkat desa setempat, perwakilan tokoh pemuka agama dari Nahdatul Ulama (NU) Mengwi dan pelajar SMA (SMAN 1 Mengwi, SMAN 2 Mengwi dan SMAN 1 Abiansemal) yang tergabung dalamkomunitas ekskul Saka Bhayangkara Badung Bali.

Selain itu, Hoegeng Awards juga dilatarbelakangi oleh humor dari mantan Presiden Abdurrahman Wahid atau Gusdur yang menyatakan hanya ada tiga polisi jujur di Indonesia, yakni patung polisi, polisi tidur dan mantan Kapolri ke-5 Jenderal Hoegeng Iman Santoso . 

Acara Dialog Publik (zoom meeting live) tersebut digelar di Hotel Grand Kemang, Jakarta Selatan. Acara ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Kadiv Humas Polri saat ini Irjen Dr. Sandi Nugroho, S.Ik, S.H., M.Hum (selaku pembuka acara), Wakil Ketua MPR RI/ anggota DPR RI Komisi III Dr. H. Asrul Sani,S.H., M.Si., LL.D, Bu Poengky Indarti, S.H., LLM dari Komisioner Kompolnas, Civitas Akademika Bhayangkara Prof. Hermawan Sulistyo, MA, Ph.D, APU, Ketua Panitia Hoegeng Awards 2023 Alfito Deannova Ginting serta acara ini dipandu oleh wanita cantik Host/ Jurnalist terkenal Fristian Griece. Acara ini diselenggarakan oleh Divisi Humas Mabes Polri.

Menarik untuk disimak dan tak dipungkiri, bahwa kata Alfito Deannova Ginting selaku Ketua Panitia Hoegeng Awards 2023,”Tujuan dari Hoegeng Awards ini adalah menghadirkan polisi-polisi yang memberikan manfaat (anugerah untuk individu Polri bukan untuk Institusi Polri).

Dan Hoegeng Award tidak terkait dengan white washing karena diselenggarakan sebelum kasus Ferdy Sambo, Teddy Minahasa serta kasus Kanjuruhan. Jadi Hoegeng Awards ini tidak ada niatan white washing“.

“Polri diseluruh Polda menyelenggarakan kontestasi Orasi Demo Masyarakat untuk publik kaitan zaman now polisi/ Kapolda/ Kapolri bisa dimaki-maki di ruang publik di Indonesia beda dengan di negara luar negeri. Nanti ada teknologi senpi (senjata api) jikalau bukan pemiliknya tidak akan bisa ditembakkan,”pungkas Prof. Kiki.

“Polri lebih terbuka saat ini dengan reformasi Struktural, reformasi Humanis dan reformasi Kultural,”kata Bu Pengky.

Pendapat dari anggota DPR RI Komisi III Bapak Asrul Sani,”Seringkali kebaikan itu ada di ruang sunyi/ sepi dari jangkauan media beda dengan sebaliknya itu ada diruang gegap gempita, serta closing statement suka tidak suka Polri masyarakat mengapreasiasi kebaikan Polri, harus membangun kultur Polri menjadi baik dan benar berbanding lurus masyarakat juga harus membangun kultur yang sama”.

“Masyarakat ikut berpartisipasi mencari polisi yang baik atau yang tidak baik untuk masuk atau tidaknya nominasi kategori Hoegeng Award,”kata penutup dari Host Fristian Griece.

(JR77)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *