Nasional

Perencanaan Partisipatoris pada Residivis

×

Perencanaan Partisipatoris pada Residivis

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Mediatimsus.com – Residivis sering kali menghadapi tantangan besar dalam reintegrasi ke masyarakat, termasuk stigma sosial, sulitnya mendapatkan pekerjaan, dan kurangnya dukungan emosional. Hal ini dapat menyebabkan mereka kembali melakukan tindakan kriminal. Dalam konteks ini, perencanaan partisipatoris menjadi strategi yang relevan untuk membantu residivis membangun kembali kehidupan mereka secara produktif.

Selama menjalankan program praktik kerja lapangan di lapas, saya Ulina Tassia Br Hutagaol dengan Nim 210902046 yang merupakan mahasiswa kesejahteraan sosial dari Universitas Sumatera Utara (USU) berkesempatan untuk mengaplikasikan pendekatan perencanaan partisipatoris dalam praktik pekerjaan sosial. Program ini dirancang untuk membantu residivis mengembangkan keterampilan refleksi diri dan resolusi konflik melalui kegiatan yang memberdayakan.

“Dalam prosesnya, saya menggunakan metode PRA dan PLA untuk mengidentifikasi kebutuhan serta merancang intervensi yang melibatkan residivis, staf lapas, dan lembaga mitra secara aktif.
Pendekatan Perencanaan Partisipatoris dalam Praktik Pekerja Sosial”, Sebut Ulina Tassia Br Hutagaol di Fisip UUSU Jl. Dr. A. Sofian No.1A, Padang Bulan, Kec. Medan Baru, Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (19/12).

Hal tersebut dilaksanakan dengan,
1.Participatory Rural Appraisal (PRA)
Memulai dengan mengadakan diskusi kelompok dengan para residivis untuk memahami pengalaman mereka selama di lapas dan setelah bebas. Diskusi ini juga mencakup tantangan yang mereka hadapi dalam membangun kehidupan baru, seperti stigma masyarakat atau konflik dalam keluarga. Selain itu, wawancara dengan staf lapas membantu mengidentifikasi kebutuhan psikososial yang spesifik.

2.Participatory Learning Action (PLA)
Setelah diskusi bersama residivis kemudian merancang konsep Pojok Refleksi dan Resolusi Hidup. Dalam program ini ara residivis menentukan tema diskusi seperti cara mengelola emosi, membangun hubungan sehat, atau menyusun tujuan hidup. Selanjutnya mereka memilih bentuk kegiatan seperti menulis jurnal harian, membuat peta perjalanan hidup, atau bermain peran (role-play) untuk mempraktikkan keterampilan komunikasi. Mengatur jadwal pertemuan disusun berdasarkan kesepakatan kelompok untuk memastikan keterlibatan semua pihak.

3.Intervensi Langsung (Direct PLA)
Memandu sesi refleksi sosial seperti dengan membagikan kisah sukses mantan residivis yang berhasil membangun kembali kehidupannya. Kemudian residivis diminta menggambarkan perjalanan hidup mereka, mencatat tantangan, dan menyusun langkah yang ingin diambil di masa depan. Selanjutnya diskusi Kelompok menggunakan simulasi untuk melatih keterampilan resolusi konflik.

4.Intervensi Tidak Langsung (Indirect PLA)
Berdiskusi dengan pengelola lapas dan lembaga mitra seperti psikolog atau konselor untuk memberikan dukungan tambahan dalam bentuk pelatihan emosional atau terapi kelompok. Saya juga menyusun rekomendasi berdasarkan masukan dari residivis untuk program lanjutan yang lebih holistik.

Perencanaan partisipatoris memberikan pendekatan yang inklusif dan efektif dalam memberdayakan residivis. Melalui metode seperti PRA, PLA, dan pendekatan langsung maupun tidak langsung, pekerja sosial dapat menciptakan program yang relevan dengan kebutuhan peserta.

“Dalam konteks residivis, program ini membantu mereka mengembangkan keterampilan, membangun kepercayaan diri, dan memperbaiki hubungan dengan masyarakat, sehingga mereka dapat berkontribusi secara positif dalam lingkungan mereka”, Tuyurnya. (Wek).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *